Jumat, 17 Oktober 2008

...KAMPUS BUTUH SIKAP BUKAN WARNA

Membedah Makna Pendidikan Politik Atau Politik Pendidikan


Masih Ingat dengan matakuliah Politik Pendidikan Islam..?? Bagi rekan rekanita sospol tentunya tidak asing lagi dengan matakuliah yang katanya sulit dipahami bahasa dan orientasinya mau dikemanakan. Yach, barangkali daya tangkap intelektualitas mahasiswa belum terkonstruk matang untuk menangkap orientasi dan bahasa yang agak sedikit banyak bernuansa politis. Atau justru dosen pengampunya yang belum bisa beradaptasai dan menyadari dengan minimnya kapasitas mahasiswanya. Tapi yang jelas penulis hanya ingin membedah makna Politik Pendidikan atau Pendidikan Politik beserta dampaknya dalam percaturan politik kampus.
A.Bedah Makna
Politik Pendidikan; Mengajarkan bagaimana pendidikan dipolitisir. Pendidikan Politik; Mengajarkan tentang bagaimana seni berpolitik dalam perspektif pendidikan
B.Dampak Pemahaman Politik Pendidikan
Perseteruan warna, jual beli baju dan penandasan simbol-simbol ideologi sempalan pemahaman keagamaan tertentu menjadi sesuatu yang dijagokan rame-rame untuk bertarung digelanggang dunia pendidikan. Pos-pos terpenting dan strategis dalam lembaga pendidikan menjadi bidikkan untuk menguatkan basis ideologi dan merapatkan barisan primordial. Perkawinan komunitas yang memiliki kesamaan dan arenedan Jika mahasiswa dijejali pemahamanan pemahamannya demikian maka
C.Mestinya

Bersikap Cerdas, BUKAN AJANG LELANG IDEOLOGI
”Yang tidak Aswaja tidak masuk sorga... Bid'ah tuch, dlolalah finnar...”. Komat kamit dan teriakan seperti itulah yang sering dijadikan lagu wajib dan mantra sakti dalam ritual pemilu raya BEM Kampus dari tahun ketahun. Bantah membantah, jegal menjegal, hujat menghujat dan tudingan demi tudingan miring hingga kutuk mengutuk, menjadi menu pokok dalam mewarnai politik kampus. Dan lagi-lagi wacana yang selalu digulirkan adalah wacana idiologi. Wacana idiologi dan paradigma tradisional selalu menjadi tombak aji pamungkas mandraguna untuk menggilas rival dan mengusung diri atas nama agama dan perubahan. Begitulah warisan para leluhur kampus men-”syariatkan” secara turun temurun kepada penganutnya.
Mestinya, mahasiswa yang dianggap oleh sebagaian masyarakat sebagai kaum pikir yang memiliki ketajaman pisau analisis dan agent social of change, harus menampakan diri dalam bentuk sikap yang berbasis intelektual dan profesional. Termasuk dalam konteks suksesi pemilu raya BEM Kampus-pun, mestinya grand issue yang diledakan dalam civitas akademika adalah wacana-wacana intelektual dan profesioanal dan bukan lagi warna maupun simbol keagamaan. Kampus bukan ajang untuk mengukuhkan sempalan pemahaman agama tertentu. Tidak laku jual karena bukan eranya lagi, hijau dan biru dipasarkan dan dijejalkan pada mahasiswa. Mahasiswa sekarang sudah semakin cerdas dan kritis untuk membaca sosok figur yang punya harga tawar tinggi dan layak membawa kamupus kedepan lebih baik. Penulis berharap; sukseskan pemilu raya dengan cantik dan sehat tanpa intimidasi dan pembonsaian pikir mahasiswa dengan dalih agama. Gagaslah kultur kampus dengan berbasis intelektual dan profesional. Jangan warnai sakralitas suksesi Pemilu Raya BEM Kampus oleh warna hijau dan biru maupun pelangi, karena ini bukan lomba mewarnai anak TK. Mestinya dosen beserta birokrasinya bersikap tawazun dan tawasuth tanpa melakukan interfensi politik kampus mahasiswa bahkan ”tajalli” .

Menggagas Kultur Akademis Berbasis Intelektual

Barangakli menjadi satu kebanggan bagi para pelajar tingkat SLTA ketika hari pertamakalinya menyandang jubah kebesaran dari ‘siswa’ menjadi “Mahasiswa”. Sah-sah saja karena mahasiswa dengan segala atribut kebesarannya masih dianggap oleh masyarakat sebagai pelajar tingkat tinggi yang cakap dan diyakini mampu diandalkan menjadi basis perubahan dipos-pos terpenting dimasyarakat.
Mahasiswa selalu diidentikan sebagai pelajar yang memiliki intelektul dan pisau analisis yang tajam, sehingga sejarah dibedah tentang bagaimana keterlibatan mahasiswa jaman Presiden Soekarno hingga rezim Bapak Presiden Soeharto, mahasiswa selau menjadi agen pembawa perubahan. Pendeknya, mahasiswa dengan segala potensi yang dimilikinya merupakan kaum intelektual yang diharapkan mampu memiliki peran dan kontribusi nyata dimasyarakat.
Mengapa selalu mahasiswa, bukan santri pondok pesantren yang dianggap cakap untuk membawa perubahan positif..?? Barangkali karena santri masih disimbolkan sebagai kaum “sandal jepit dan sarung berpeci” yang eksklusif (tertutup) untuk aktif terlibat mengambil peran dimasyarakat selain cukup ngajar ngaji dan sembahyang. Meskipun pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia bahkan Internasional.

Kultus Segi Tiga Emas

Kultur kampus yang seharusnya menjadi basis aktifitas pikir mahasiswa tidak berlebihan jika seharusnya diwarnai suasana akademis religius oleh mahasiswanya seperti membumikan kultur kelompok-kelompok diskusi, optimalisasi perpustakaan, dan etika berbusana serta pergaulan yang mencerminkan lebel Islam.
Fenomena mahasiswa Gunadarma masih terkukung dalam ritual pengkultusan (pendewaan) terhadap Segi Tiga Emas Kampus, yakni : kost, kantin dan ruang kuliah. Mereka sudah merasa cukup dengan materi-materi perkuliahan yang didapat dari dosen, padahal kualitas mahasiswa amat ditentukan oleh bagaimana semangat mereka terlibat pencarian materi-materi
diluar ruang kuliah dengan dosen. Sementara waktu mereka banyak dihabiskan untuk mejeng dikantin dengan sebotol coca cola ditemani gandengannya sambil membuka obrolan yang tidak nyambung dengan obrolan seorang yang katanya “Intelek”

Menggagasan Mahasiswa yang Berkualitas

Kualitas mahasiwa tidak sekedar diukur oleh wujud angka hitam diatas putih (Indeks Prestasi) atau cukup duduk manis mendengarkan ceramah dosen diruang kuliah. Akan tetapi standar kualitas mahasiswa dapat diupayakan dengan : pertama bagaimana ia memiliki tingkat intelektual untuk berusaha menguasai kurikulum yang disuguhkan oleh pihak akademik dengan aktif mengikuti jalannya perkuliahan secara tertib. Kedua Sikap mengindahkan Kode Etik Mahasiswa sebagai bentuk implikasi (pengaruh) dan ukuran keberhasilan atas materi-materi yang menjadi menu pokok kajian mahasiswa.
Ketiga Bagaimana ia mampu mengoptimalkan sarana-sarana perkuliayah seperti Perpustakaan, pemberdayaan ruang-ruang diskusi dan peran aktif dalam UKM serta terlibat aktif berperan ganda dalam organisasi ektra. Keempat bagaimana ia mengumpulkan prestasi kepekaan sosial dengan mengambil peran ganda dimasyarakat sebagai sarana mempraktekan teori-teori perkuliahan yang diperoleh dari ruang kuliah, seminar, diskusi, maupun hasil bacaan diperpustakaan.

Nah jika kita sederhanakan sosok mahasiswa yang berkualitas adalah mereka yang mampu menguasai Kurikulum Mikro yakni bagaiman mereka bisa memaksimalkan peran intelektual dalam menyerap kurikulum yang disuguhkan oleh pihak akademik dan Kurikulum Makro yaitu bagaiman mereka punya peran ganda masyarakat dengan sikap layaknya mahasiswa Islam.
Penulis sadar bahwa tulisan ini jauh dari sempurana, oleh karena itu semoga tulisan yang singkat ini mampu menggugah kesadaran kawan-kawan mahasiswa baru untuk lebih semangat mencari ilmu dengan meluruskan niat “Tolabul ‘ilmi”. Wallahu a’lam..
By, Kai Pranata