Barangakli menjadi satu kebanggan bagi para pelajar tingkat SLTA ketika hari pertamakalinya menyandang jubah kebesaran dari ‘siswa’ menjadi “Mahasiswa”. Sah-sah saja karena mahasiswa dengan segala atribut kebesarannya masih dianggap oleh masyarakat sebagai pelajar tingkat tinggi yang cakap dan diyakini mampu diandalkan menjadi basis perubahan dipos-pos terpenting dimasyarakat.
Mahasiswa selalu diidentikan sebagai pelajar yang memiliki intelektul dan pisau analisis yang tajam, sehingga sejarah dibedah tentang bagaimana keterlibatan mahasiswa jaman Presiden Soekarno hingga rezim Bapak Presiden Soeharto, mahasiswa selau menjadi agen pembawa perubahan. Pendeknya, mahasiswa dengan segala potensi yang dimilikinya merupakan kaum intelektual yang diharapkan mampu memiliki peran dan kontribusi nyata dimasyarakat.
Mengapa selalu mahasiswa, bukan santri pondok pesantren yang dianggap cakap untuk membawa perubahan positif..?? Barangkali karena santri masih disimbolkan sebagai kaum “sandal jepit dan sarung berpeci” yang eksklusif (tertutup) untuk aktif terlibat mengambil peran dimasyarakat selain cukup ngajar ngaji dan sembahyang. Meskipun pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia bahkan Internasional.
Kultus Segi Tiga Emas
Kultur kampus yang seharusnya menjadi basis aktifitas pikir mahasiswa tidak berlebihan jika seharusnya diwarnai suasana akademis religius oleh mahasiswanya seperti membumikan kultur kelompok-kelompok diskusi, optimalisasi perpustakaan, dan etika berbusana serta pergaulan yang mencerminkan lebel Islam.
Fenomena mahasiswa Gunadarma masih terkukung dalam ritual pengkultusan (pendewaan) terhadap Segi Tiga Emas Kampus, yakni : kost, kantin dan ruang kuliah. Mereka sudah merasa cukup dengan materi-materi perkuliahan yang didapat dari dosen, padahal kualitas mahasiswa amat ditentukan oleh bagaimana semangat mereka terlibat pencarian materi-materi
diluar ruang kuliah dengan dosen. Sementara waktu mereka banyak dihabiskan untuk mejeng dikantin dengan sebotol coca cola ditemani gandengannya sambil membuka obrolan yang tidak nyambung dengan obrolan seorang yang katanya “Intelek”
Menggagasan Mahasiswa yang Berkualitas
Kualitas mahasiwa tidak sekedar diukur oleh wujud angka hitam diatas putih (Indeks Prestasi) atau cukup duduk manis mendengarkan ceramah dosen diruang kuliah. Akan tetapi standar kualitas mahasiswa dapat diupayakan dengan : pertama bagaimana ia memiliki tingkat intelektual untuk berusaha menguasai kurikulum yang disuguhkan oleh pihak akademik dengan aktif mengikuti jalannya perkuliahan secara tertib. Kedua Sikap mengindahkan Kode Etik Mahasiswa sebagai bentuk implikasi (pengaruh) dan ukuran keberhasilan atas materi-materi yang menjadi menu pokok kajian mahasiswa.
Ketiga Bagaimana ia mampu mengoptimalkan sarana-sarana perkuliayah seperti Perpustakaan, pemberdayaan ruang-ruang diskusi dan peran aktif dalam UKM serta terlibat aktif berperan ganda dalam organisasi ektra. Keempat bagaimana ia mengumpulkan prestasi kepekaan sosial dengan mengambil peran ganda dimasyarakat sebagai sarana mempraktekan teori-teori perkuliahan yang diperoleh dari ruang kuliah, seminar, diskusi, maupun hasil bacaan diperpustakaan.
Nah jika kita sederhanakan sosok mahasiswa yang berkualitas adalah mereka yang mampu menguasai Kurikulum Mikro yakni bagaiman mereka bisa memaksimalkan peran intelektual dalam menyerap kurikulum yang disuguhkan oleh pihak akademik dan Kurikulum Makro yaitu bagaiman mereka punya peran ganda masyarakat dengan sikap layaknya mahasiswa Islam.
Penulis sadar bahwa tulisan ini jauh dari sempurana, oleh karena itu semoga tulisan yang singkat ini mampu menggugah kesadaran kawan-kawan mahasiswa baru untuk lebih semangat mencari ilmu dengan meluruskan niat “Tolabul ‘ilmi”. Wallahu a’lam..
By, Kai Pranata
Jumat, 17 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar